Salam Pramuka,
Ketika tulisan ini dibuat, saya tengah melatih pada Kursus Pembina Mahir Tingkat Lanjutan di Kwartir Cabang Cianjur.
Kegiatan ini dilaksanakan pada 18-23 Oktober 2013 di Komplek Kwartir Cabang Cianjur.
Ada beberapa materi yang ingin saya share :
1. Materi SKK dan TKK silakan unduh disini
2. Materi SPG dan TPG silakan unduh disini
Selamat mengunduh...
TAMBAHAN
Untuk Laporan Bulanan Narakarya setelahnya KML, pada prinsipnya sama dengan Narakarya 1 (dulu: pemantapan/pengembangan KMD). Silakan bagi yang membutuhkan dapat lihat/unduh format laporan disini
.
Motto IRWAN MAULANA
.
Saturday, October 19, 2013
Wednesday, September 25, 2013
Dad A Son's first hero and A Daughter's first love
Pulang dari aktivitas yang melelahkan, bakda Isya saya biasa bercengkrama dengan istri mengenai masalah keluarga, khususnya anak-anak kami. Ada bahasan yang menarik mengenai cinta pertama seorang anak perempuan. Saya jadi teringat akan ungkapan, yang jadi judul postingan ini. Saya jadi teringat tulisan yang ada di IndonesiaOptimis.com berikut. Terima kasih IndonesiaOptimis.com. Semoga kita bisa mengambil manfaatnya. Selamat membaca!
Ungkapan Dad A Son's first hero and A
Daughter's first love cukup dikenal di masyarakat barat. Bagaimana seorang
ayah menjadi pahlawan pertama bagi anak laki-laki dan menjadi cinta pertama
bagi anak perempuannya. Sekilas terlihat sederhana, wajar namun ternyata
membutuhkan upaya sungguh-sungguh untuk mewujudkannya. Bukan hanya itu, namun
hikmah dari hal tersebut ternyata luar bisa dikemudian hari bagi perkembangan
anak-anak.
Saya mengingat ungkapan tersebut justru saat
ditanya dalam sebuah kesempatan seminar tentang Pendidikan Anak (Tarbiyatul
Aulad). Salah seorang peserta menanyakan apakah ada perbedaan khusus dalam
mendidik anak laki-laki dan perempuan ?. Barangkali pertanyaan ini jika
ditanyakan kepada pakar parenting yang sesungguhnya, mungkin membutuhkan
jawaban yang panjang dan detil. Begitu pula jika dituliskan, bisa jadi malah
layak dibuat sebuah buku khusus tentang hal tersebut. Namun saya mencoba
menjawab dengan mengingat ungkapan di atas Dad A Son's first hero and A
Daughter's first love, yang ternyata juga sempat saya terima saat saya
mengikuti workshop keluarga.
Tentang sosok ayah menjadi pahlawan bagi anak laki-laki misalnya. Yaitu bagaimana ayah tampil untuk mentransfer jiwa-jiwa keberanian, ksatria dan kepahlawanan pada anak laki-lakinya. Dan sepertinya ini memang khusus bidangnya ayah ? Mengapa bukan ibu dan ibu guru di sekolah ?
Tentang sosok ayah menjadi pahlawan bagi anak laki-laki misalnya. Yaitu bagaimana ayah tampil untuk mentransfer jiwa-jiwa keberanian, ksatria dan kepahlawanan pada anak laki-lakinya. Dan sepertinya ini memang khusus bidangnya ayah ? Mengapa bukan ibu dan ibu guru di sekolah ?
Ust Irwan Renaldi seorang pakar parenting
pernah menyampaikan hasil pengamatannya, bahwa hampir sebagian besar guru TK
anak-anak kita adalah kaum wanita, ibu guru, bunda atau usatdzah biasa disebut.
Nah bisa dibayangkan saat seorang anak laki-laki, yang semestinya mendapatkan
kisah-kisah heroik seperti Umar bin Khottob, tapi karena kisah itu muncul dari
gambaran seorang ustadzah yang lembut nan gemulai, maka sosok tegas Umar tidak
akan bisa masuk dalam benak anak-anak kita dengan baik. Mereka mendapatkan hal
yang unik berbeda, antara kisah Umar yang tegas tapi diperankan oleh seorang
bunda yang lembut terkesan lemah.
Itu baru sekedar tentang gaya bercerita, belum lagi soal tantangan fisik yang harus diperkenalkan kepada anak laki-laki kita, seperti bermain lumpur, panjat pohon, dan yang semacamnya, tentu tidak bisa dibebankan kepada ibu guru di sekolah bahkan ibunya di rumah. Maka seorang ayah harus tampil memastikan jiwa keberanian, ksatria, pengorbanan itu tumbuh pada diri anak-anak mereka, baik melalui dongeng kisah heroik maupun langsung praktik di lapangan. Semua ini ternyata berselaras dengan apa yang dianjurkan pada sosok ayah dalam agama kita.
Itu baru sekedar tentang gaya bercerita, belum lagi soal tantangan fisik yang harus diperkenalkan kepada anak laki-laki kita, seperti bermain lumpur, panjat pohon, dan yang semacamnya, tentu tidak bisa dibebankan kepada ibu guru di sekolah bahkan ibunya di rumah. Maka seorang ayah harus tampil memastikan jiwa keberanian, ksatria, pengorbanan itu tumbuh pada diri anak-anak mereka, baik melalui dongeng kisah heroik maupun langsung praktik di lapangan. Semua ini ternyata berselaras dengan apa yang dianjurkan pada sosok ayah dalam agama kita.
Tentang menceritakan kisah-kisah sejarah dan
kepahlawanan, seorang sahabat pernah mengungkapkan : Dahulu kami mengajarkan
sejarah peperangan Rasulullah SAW, sama sebagaimana kami mengajarkan AlQuran
pada anak-anak kami". Adapun tentang tantangan fisik, sejak awal
Rasulullah SAW menganjurkan kita untuk menempa anak-anak kita dengan olahraga
fisik yang menjadikannya sehat lagi kuat, beliau bersabda : " Ajarkanlah
anak-anakmu berenang, menunggang kuda, dan memanah" (HR Ahmad). Dengan
itulah insya Allah seorang ayah menjadi 'first hero' yang mengajarkan
keberanian dan keteguhan pada anak laki-lakinya. Jika lalai dan menggampangkan
soal ini, bisa jadi anak laki-laki kita tumbuh tanpa ketegasan dalam diri,
lebih parah lagi sikap lemah gemulai yang tak wajar bagi kehidupannya.
Adapun tentang cinta pertama bagi anak perempuan, saya teringat dengan apa yang disampaikan oleh pakar parenting juga ibu Emmy Sukresno dalam sebuah kesempatan seminar di Solo. Beliau mengingatkan para ayah untuk tidak sungkan dalam berbagi kasih sayang kepada putri mereka, baik dalam bentuk belaian, sentuhan, pelukan bahkan memangku.
Terkadang ada perasaan sungkan dan ragu pada sang ayah mengingat putri mereka yang kian hari bertambah besar. Ibu Emmy Sukresno justru menyatakan, bahwa ketika anak putri sudah mendapatkan belaian kasih sayang dari sang ayah yang nota bene seorang laki-laki, maka pada saatnya nanti saat sang putri sudah beranjak dewasa, mereka tidak akan 'caper' dan 'genit' kepada teman laki-lakinya di sekolah, karena telah mendapatkan kasih sayang dari sang ayah. Hal yang sederhana tetapi ternyata berefek luar biasa bagi masa depan anak-anak kita.
Adapun tentang cinta pertama bagi anak perempuan, saya teringat dengan apa yang disampaikan oleh pakar parenting juga ibu Emmy Sukresno dalam sebuah kesempatan seminar di Solo. Beliau mengingatkan para ayah untuk tidak sungkan dalam berbagi kasih sayang kepada putri mereka, baik dalam bentuk belaian, sentuhan, pelukan bahkan memangku.
Terkadang ada perasaan sungkan dan ragu pada sang ayah mengingat putri mereka yang kian hari bertambah besar. Ibu Emmy Sukresno justru menyatakan, bahwa ketika anak putri sudah mendapatkan belaian kasih sayang dari sang ayah yang nota bene seorang laki-laki, maka pada saatnya nanti saat sang putri sudah beranjak dewasa, mereka tidak akan 'caper' dan 'genit' kepada teman laki-lakinya di sekolah, karena telah mendapatkan kasih sayang dari sang ayah. Hal yang sederhana tetapi ternyata berefek luar biasa bagi masa depan anak-anak kita.
Dalam Islam pun anjuran untuk memeluk dan
mencium anak jelas disebutkan, bagaimana Rasulullah SAW memeluk dan mencium
cucunya, hingga ketika ada seorang yang lewat merasa kaget dan asing karena ia
tak biasa melakukannya, padahal ia sendiri memiliki 10 orang anak yang tak
seorangpun pernah
Satu lagi pekerjaan rumah bagi siapa saja yang ingin menjadi sosok ayah kebanggaan dan kecintaan putra-putri mereka. Semoga bermanfaat dan salam optimis. |
Tuesday, September 17, 2013
STORY TELLING DI LT 3 KWARCAB CIANJUR
Lomba Regu Pramuka Penggalang merupakan salah satu cara untuk
mempersiapkan kader bangsa yang memiliki kepribadian dan kepemimpinan yang
berjiwa Pancasila, disiplin, sehat mental, moral, fisiknya, berjiwa patriot,
mampu berkarya dengan semangat kemandirian, peduli dan berkomitmen terhadap
Kode Kehormatan Pramuka.
Salah satu mata lomba yang akan digelar adalah Lomba Pidato Bahasa Inggris untuk penggalang yang berpangkalan di SLTP. Sajian pidato dalam bentuk "story telling". Berikut adalah petunjuk teknis lomba tersebut.
Teknis Lomba
Pidato Bahasa Inggris ( Story Telling)
Tujuan : Untuk
meningkatkan kemampuan berbahasa Inggris sebagai bahasa internasional
Waktu : Senin,
23 September 2013, pukul 16.30-17.30.00 wib
tempat : perkemahan induk
Peserta : Masing-masing
regu diwakili 1 orang
Proses dan
Prosedur :
a. Mendaftar
b. Menyampaikan bahan cerita
c. Waktu pelaksanaan 6 menit
d. Tema Story telling about legendary story
in Indonesia
Aspek Penilaian : Kesesuaian dengan tema, intonasi, penyampaian komunikatif, penguasaan dengan
audiens, penggunaan bahasa yang baik dan
benar, ketepatan waktu.
Perlengkapan
Peserta : Peserta membawa teks pidato
Penanggung jawab :
Bidang Kegiatan, subsie Kelompok IV
Petugas : Diatur sendiri
Juri : Diatur
sendiri
CARI INDONESIAN STORY UNTUK LT3 ?
Jika belum memiliki cerita untuk
LT 3 lomba Bahasa Inggris "STORY TELLING", silakan berkunjung ke http://ceritarakyat.50webs.com/ Semoga bermanfaat!
Sunday, September 8, 2013
SATUAN TERPISAH (MASIH) DALAM SOROTAN
“ Di sekolah ini, siapa yang ingin dibenci saya, silakan aktif Pramuka!”, demikian pernyataan seorang pimpinan yayasan di Cianjur, ketika ditanya oleh seorang wartawan. Laksana petir di siang bolong, sang wartawan yang pernah aktif di kepramukaan itu terhenyak dan dengan penuh telisik, ia melanjutkan bertanya, mengapa demikian bencinya sang pimpinan yayasan terhadap kepramukaan. Jawabnya singkat: “karena di kepramukaan ada camping”. Ujung-ujungnya terkuak, karena dalam camping sering campur baur laki-laki perempuan, dan menurut si Ibu: ...itu yang saya sangat tidak suka!!!
Pernah kita dengar dalam berita, ada oknum pembina pramuka yang alih-alih membina pramuka menjadi manusia bermoral, malah diri si oknum ini melakukan perilaku yang amoral terhadap anak didiknya yang berlainan jenis kelamin. Perilaku oknum itu menjadikan kepramukaan terpojokkan dihadapan masyarakat sekaligus merusak citra Gerakan Pramuka. Padahal sudah demikian panjang organisasi ini berbenah diri menjadi organisasi andalan pembentuk karakter anak bangsa.
Adalah wajar, orang tua ingin anaknya selamat dari perilaku buruk. Karena dalam pandangan masyarakat kita, perempuan ditempatkan secara terhormat dengan keistimewaannya, demikian juga terhadap laki-laki. Ini bukan diskriminasi, tetapi melaksanakan norma dan sebagai upaya pencegahan timbulnya perilaku negatif pada generasi muda yang sudah mewabah dan secara permisif terjadi di masyarakat.
Gerakan Pramuka ditantang untuk peduli dengan kemerosotan moral anak bangsa, salah satunya dari perilaku kebebasan bergaul lawan jenis. Bangsa yang berkarakter Pancasila tentu bukan sebuah bangsa yang membiarkan kebebasan bergaul tumbuh mewabah merusak sendi-sendi dan norma kehidupan sosial kita. Pramuka harus tampil didepan.
Kepramukaan di Indonesia memiliki keistimewaan, yaitu adanya salah satu metode kepramukaan yang tidak dimiliki oleh kepanduan negara lainnya. Metode itu adalah Satuan Terpisah untuk Putera dan Puteri. Satuan terpisah pramuka putra dan pramuka putri diterapkan di gugus depan, satuan karya pramuka, dan kegiatan bersama. Satuan pramuka putri dibina oleh pembina putri, satuan pramuka putra dibina oleh pembina putra, kecuali perindukan siaga putra dapat dibina oleh pembina putri.
Untuk kegiatan yang diselenggarakan dalam bentuk perkemahan, harus dijamin dan dijaga agar tempat perkemahan putri dan tempat perkemahan putra terpisah, perkemahan putri dipimpin oleh pembina putri dan perkemahan putra dipimpin oleh pembina putra. Begitupun dalam kegiatan di alam terbuka lainnya, perlu diperhatikan ketertiban, keamanan, dan kenyamanan seperti yang diharapkan dengan metode yang prinsipil ini.
Faktanya, belum sepenuhnya metode yang cukup prinsipil ini dijalankan. Banyak alasan yang sering disampaikan oleh para pembina. Kurang tersedianya pembina putri, tiada anggaran yang cukup membiayai pembina, banyak kegiatan yang lebih bersifat maskulin sehingga lebih baik ditangani oleh laki-laki, dan alasan-alasan lainnya.
Bagaimana sebaiknya?
Kakak dan Adik pembaca, bagaimana alternatif solusi terhadap persoalan diatas, maka saya sarankan hal-hal berikut ini :
1.
Tumbuhkan terus kesadaran bahwa menerapkan satuan
terpisah untuk putera dan puteri, serta menata hubungan pergaulan laki-laki dan
perempuan adalah sikap yang terpuji yang diajarkan oleh agama, sesuai dengan
nilai-nilai budaya timur yang dianut bangsa ini. Tentunya bagi yang sudah
dilantik ini merupakan wujud pengamalan satya dan darma kita.
2.
Kesadaran bergaul dengan tetap mengindahkan norma yang
baik ini, harus terus diimplementasikan dalam setiap kegiatan sehingga
menumbuhkan kenyamanan pramuka dan orangtua serta masyarakat mempercayakan
generasi mudanya pada Gerakan Pramuka.
3.
Tetap upayakan setiap satuan (gudep dan saka)
menerapkan metode kepramukaan ini. Sediakan pembina putera yang cukup dan cakap
untuk satuan putera. Demikian pula untuk satuan puteri sediakan pembina puteri.
4.
Jika belum memiliki pembina seperti aturan diatas, atur
sedemikian rupa agar tata hubungan dan pergaulan dapat tetap mengindahkan
nilai-nilai dan norma agama, dan norma lainnya yang berlaku di masyarakat.
5.
Hindarkan acara-acara yang menimbulkan tercampurnya
pramuka putera dan puteri dengan tidak beraturan, yang dapat menimbulkan
sangkaan buruk terhadap kegiatan kepramukaan apalagi di lingkungan masyarakat/komunitas
yang religius.
6.
Untuk kegiatan pada jenjang Penegak dan Pandega di tingkat kwartir,
sudah seharusnya tetap mendapat pengawasan
pembina dan Andalan kwartir, sekalipun mereka diberi kesempatan mengelola
kegiatan secara lebih mandiri. Lebih-lebih pada kegiatan yang bermalam dan
berhari-hari, pengawasan harus
betul-betul dilaksanakan.
7.
Adalah baik, jikalau dibiasakan penyelenggaraan
kegiatan/ acara secara terpisah antara gudep putera dan puteri dengan capaian
kompetensi yang mengarah pada keistimewaan jender mereka yang berbeda. Ini akan
menciptakan opini di masyarakat bahwa kepramukaan tidak selalu bercampur baur
antara laki-laki dan perempuan, juga membentuk karakter anak sesuai jender dan tugas
perkembangannya.
Xp2 scout mengakhiri tulisannya dengan: “So…, apakah kita tetap berpikir untuk
mempertahankan sistem satuan terpisah? Jawaban dari pertanyaan itulah yang
harus dipikirkan oleh setiap pembina pramuka. Prinsipnya kalau sistem itu sudah tidak diperlukan mengapa harus
dipertahankan”.
Saya bertanya:“So...Apakah
karena satuan terpisah bagi putera dan puteri belum optimal kita terapkan
dalam kepramukaan, maka kita akan hapuskan dalam Metode Kepramukaan? Karakter
generasi muda seperti apa yang ingin dibentuk oleh Gerakan Pramuka tanpa metode
ini? Apakah kita akan legalkan ada regu-sangga campuran putera puteri? Bahkan perkemahan
campuran?
Yang meyakini
pentingnya metode ini, tentu akan menjawab dengan tegas: TIDAK!
Kepramukaan tidak boleh kehilangan Prinsip Dasar Kepramukaan
dan Metode Kepramukaannya, termasuk Satuan Terpisah untuk Pramuka Putera dan
Puteri didalamnya.
Semoga tulisan ini menginspirasi dan bermanfaat.
Subscribe to:
Posts (Atom)




