Motto IRWAN MAULANA

" MUN TEU NGARAH MOAL NGARIH, MUN TEU NGAKAL MOAL NGAKEUL ".

Saturday, January 17, 2015

WAWANCARA Praktis: Mahasiswa Harus Bisa!



Assalamu’alaikum pembaca!
Alhamdulillah saat ini Alloh SWT masih memperkenankan kita bertemu lagi di blog sederhana ini, semoga memberi manfaat bagi kehidupan kita.

Saat ini saya akan mengupas “wawancara” dalam penelitian.

Saya membahas wawancara dilatarbelakangi oleh kesibukan saya beberapa hari ini. Tidak terasa kurang lebih 2 (dua) minggu ini, saya membantu teman mencari bahan tulisan mengenai penelitian. Dalam metode penelitian terutama dalam pendekatan kualitatif nampak sekali pentingnya wawancara. Disamping metode observasi dan  studi dokumentasi, wawancara sangat diandalkan. Maka sepantasnya mahasiswa yang akan melakukan penelitian memiliki kecakapan wawancara baik secara teoritis, maupun praktis.
  
Tulisan ini, ingin berusaha menjawab pertanyaan-pertanyaan berikut:
1.       Apakah wawancara itu?
2.       Apa saja jenis-jenis wawancara itu?
3.       Bagaimana menyiapkan sebuah wawancara agar berhasil dan berdaya guna?
4.       Bagaimana sikap pewawancara yang baik?
5.       Apa yang harus dilakukan selama wawancara?
6.       Bagaimana mengakhiri wawancara dengan baik?

Tujuan penulisan ini, tentunya ingin  memberikan informasi kepada pembaca, khususnya bagi para mahasiswa yang sedang bergelut dengan tugas akhir akademik, mengenai seluk beluk wawancara dalam sebuah penelitian. Penulis mengharapkan, secara teoretis tulisan ini akan menambah wawasan dan bisa menjadi acuan dalam penelitian. Secara praktis dapat dipraktekan pada pelaksanaan wawancara. Kekurangan dan kelebihan akan ditemukan ketika kita memanfaatkan ilmu yang sudah kita dapatkan.    Semoga bermanfaat.

Wawancara
Wawancara atau juga disebut interview, adalah sebuah bentuk atau cara mendapatkan informasi dan data, dengan cara tanya jawab terhadap obyek penelitian atau orang yang dianggap mengetahui tentang masalah yang diteliti. Wawancara merupakan salah satu bagian yang terpenting dari setiap survai (Slamet, 2004, hal. 44). Tanpa wawancara seorang peneliti akan kehilangan informasi yang hanya dapat diperoleh melalui jalan  bertanya kepada responden (orang yang dianggap mengerti tentang obyek penelitian). Metode wawancara sangat cocok diterapkan dalam penelitian sosial, walaupun tidak tertutup kemungkinan penelitian IPA dan Teknologi juga menggunakan metode ini.

Keakuratan data yang diperoleh dengan cara ini tergantung dari pewawancara, responden, topik pembicaraan, dan situasi saat wawancara berlangsung. Disinilah peneliti perlu mengetahui jenis-jenis wawancara. Menurut Slamet (2004, hal. 45) jenis-jenis wawancara dapat dibagi sebagai berikut:
1.              Information Interview
Yaitu inteview untuk meminta keterangan –keterangan mengenai sesuatu yang diketahui oleh orang yang diwawancarai.
2.              Opinion Interview
Yaitu interview untuk meminta pendapat atau pandangan kepada orang yang diwawancarai.
3.              Feature Interview
Yaitu interview untuk mengetahui cita-cita dan pengalaman orang yang diwawancarai.

Persiapan Wawancara
Agar berhasil baik wawancara perlu dibuatkan pedoman atau langkah-langkahnya. Berikut ini adalah langkah-langkah sebaiknya dilakukan:
1.       Membuat koesioner/ daftar pertanyaan
2.       Menyiapkan perlengkapan
3.       Memilih Responden

Dalam membuat koesioner, perlu diperhatikan hal-hal berikut ini:
1.       Siapkan rancangan “presentasi” singkat mengenai tujuan umum penelitian, arti penting dan keuntungan  yang bisa diperoleh dari  wawancara, bahkan jika ada keuntungan dari responden dengan wawancar tersebut. Nyatakan agar pertanyaan dijawab dengan sejujur-jujurnya.
2.       Gunakan tujuan penelitian / tujuan studi sebagai penuntun  dalam menyusun kuesioner.
3.       Bagilah instrumen kepada fase-fase yang berbeda menurut tujuan atau sasaran yang berbeda untuk mempermudah analisa datanya.
4.       Pilah dan pilih pertanyaan dengan memperhatikan kemungkinan respon dari responden. Hindarkan pertanyaan-pertanyaan yang diperkirakan responden tidak mengetahuinya. Jangan lupa, hindari pertanyaan yang membutuhkan waktu lama berfikir karena sesuatu hal atau kejadian yang terlampau di luar ingatan untuk menjawab dengan tepat.  Hindarkan pula dari pertanyaan yang kabur (bias/sulit dimengerti), gunakan kalimat yang singkat dan jelas. Hindarkan pula pertanyaan yang mengarahkan pada jawaban tertentu, yang “memaksa” responden menjawabnya.
5.       Gunakan kata-kata yang sederhana, singkat, dan jelas agar mudah dipahami responden. Upayakan selalu menggunakan kata yang halus, menyenangkan, dan komunikatif sehingga responden tetap nyaman dalam wawancara.    

Selain kuesioner, tidak kalah pentingnya adalah tersedianya perlengkapan wawancara yang dibutuhkan. Diantara yang penting adalah perlengkapan berikut ini:
1.       Identitas diri
2.       Surat izin jika dibutuhkan
3.       Alat-alat tulis
4.       Alam rekam suara/gambar ( tape recorder , kamera, handycam ).
5.       Alat transportasi

Seperti yang sudah disampikan diatas, yang ketiga yang perlu disiapkan dalam sebuah wawancara adalah responden. Responden perlu dipilih yang mengetahui permasalahan yang  sedang diteliti. Sangat disayangkan  jauh-jauh, dan berlama-lama kita melakukan wawancara jika tidak mendapatkan informasi yang dibutuhkan.
Disamping itu responden perlu diperhatikan latar belakangnya, misalnya latar belakang pendidikan dan sosialnya, sehingga wawancara berlangsung secara komunikatif.
Untuk menghasilkan kesimpulan yang baik, sangat dianjurkan wawancara  tidak hanya dilakukan pada  seorang responden saja, namun kepada responden yang lain. Untuk hal ini, bisa saja dipilih responden yang memiliki karakteristik yang berbeda, yang penting responden mengetahui permasalahan yang diteliti.  

BERSAMBUNG

Bibliography

Slamet. (2004). Bimbingan Penelitian Memahami Cara Kerja Para Imuwan. Jakarta: PT Mitra Cendekia.

Friday, September 5, 2014

lanjutan UPACARA PEMBUKAAN LATIHAN PERINDUKAN SIAGA

Salam Pramuka!

Apa kabar kakak dan adik-adik  pembaca? Semoga Anda semua sehat wal afiat.

BTW......Pembaca yang budiman,  kasihan... kakak pembina Siaga, ada yang menunggu lengkapnya tulisan saya mengenai Upacara Siaga. Sejak  Kamis, 2 Mei 2013. Waktu itu saya baru menulis upacara pembukaan latihan perindukan siaga sebagian, alias belum lengkap. Kakak bisa lihat  di http://irwanmaulana.blogspot.com/search?q=upacara+siaga . 

Baiklah kini, saya coba lengkapi, semoga bermanfaat.

UPACARA PEMBUKAAN LATIHAN PERINDUKAN SIAGA


a. Pemeriksaan kebersihan dan kerapihan anggota.
    Pemeriksaan ini bisa dilakukan dengan permainan ataupun langsung dibariskan lalu diperiksa.      Yang memeriksa tentu adalah Bunda/Yanda dan Bu Cik/Pak Cik. Biasanya pemeriksaan kebersihan badan meliputi kuku jari tangan, gigi, rambut, wajah dsb. Berikan penghargaan/pujian bagi yang bagus dan berikan nasihat bagi yang belum bagus.

 b. Memilih barung terbaik untuk memimpin upacara
Barung terbaik yang dimaksud biasanya adalah barung yang terbaik dalam menjaga kebersihan badan dan kerapian pakaian.

c. Barung terbaik menyiapkan perlengkapan upacara
Dengan dipimpin oleh pemimpin barungnya perlengkapan upacara disiapkan. Yang pokok harus ada adalah standar bendera, tiang/tongkat dengan bendera Merah Putih yang sudah terikat-terpasang rapi, naskah teks Pancasila dan teks Dwidarma. Standar bendera jika ada sebaiknya 2 buah. Satu buah dipasang ditengah barisan untuk upacara, dan satu lagi disimpan dengan tongkat berbendera terpasang, sebelum diambil pada saat upacara nanti oleh pin-up.

d. Pemimpin Upacara memanggil anggota perindukan, untuk membentuk lingkaran besar mengelilingi standar bendera.
Pemimpin upacara dalam Upacara pembukaan latihan siaga sering dilakukan oleh Sulung. Namun dibeberapa perindukan untuk kaderisasi kepemimpinan, pemimpin upacara bisa juga adalah pemimpin barung  yang menjadi barung terbaik

Dalam mengumpulkan para Siaga, Pin-up (pemimpin upacara) meneriakkan kata " Siaga!" dan oleh para Siaga dijawab dengan kata "Siap!" 
Kemudian ketika Pin-up memberi isyarat barisan LINGKARAN, para Siaga berkumpul membentuk barisan lingkaran. Saya anjurkan, agar lingkaran yang dibuat adalah berbentuk LINGKARAN KECIL DULU, dan kemudian Pin-up memberi aba-aba mundur 3 langkah. Maka terbentuk LINGKARAN BESAR. Karena biasanya mereka saling tarik tangan ketika langsung membuat lingkaran besar. Jangan lupa beri aba-aba "SIAP GERAK!" sebelum menghadap/menjemput pembina upacara.

e. 1) Pembina Upacara (Pembina Siaga) dijemput oleh Pemimpin Upacara dan mengambil tempat ditengah lingkaran menghadap bendera dan pintu upacara.
Pin-up beri hormat ke Pembina Upacara, dan lapor upacara pembukaan latihan siap dimulai.
Kalimat laporan, sederhana saja. Misalnya : LAPOR BUNDA, UPACARA PEMBUKAAN LATIHAN SIAP DIMULAI!  ada juga yang lebih terkesan kesiagaannya dengan cara lapor: LAPOR BUNDA, TEMAN-TEMAN SUDAH SIAP UPACARA!. 
Kemudian Pembina Upacara (Bunda-Yanda) berjalan beriringan masuk dengan Pin-Up kedalam barisan. Pin-Up diposisikan di depan standar bendera membelakangi jalan masuk. Sementara pembina lanjut menempati posisi berhadapan dengan Pin-Up,  berdiri tegap dengan antara berupa standar bendera.
2) Para Pembantu Pembina Siaga masuk lingkaran upacara.
ketika Pembina Upacara masuk ke tengah barisan, maka para pembantu pembina yang hadir berpencar masuk ke dalam barisan diantara barung yang hadir.

 f. Pemimpin Upacara mengambil bendera untuk dikibarkan.
Setelah berdiri didalam lingkaran, selanjutnya pembina memerintahkan pin-up,membawa sang merah putih. Kata-katanya dapat seperti ini.  “PIN-UP/SULUNG KIBARKAN SANG MERAH PUTIH KITA!”. Kemudian Pin-up menjawab : “SIAP”, kemudian Pin-up balik kanan dan menuju ke tempat penyimpanan bendera Merah Putih dengan langkah biasa. Setelah ada di depan standar/tempat penyimpanan pin-up dengan tegak dan tegap membawa tongkat berbendera sang merah putih menuju batas lingkaran tempat ia keluar tadi. Ada yang membiasakan pin-up sebelum mengambil bendera, melakukan dulu penghormatan pada bendera. Penulis tidak menganjurkan karena TIDAK LAZIM menghormat bendera kecuali ketika dikibarkan/dibawa. Disamping itu, pin-up juga akan menghormat bendera pada waktunya nanti.

g. Pada waktu bendera sampai dipintu upacara, semua anggota perindukan memberi hormat hingga selesai.
Pada saat tiba dibatas lingkaran, Pin-up menghentakkan kaki kirinya maju dengan tegap, semua peserta upacara memberi penghormatan tanpa diberi aba-aba. Mungkin untuk perindukan yang pertama kali latihan, perlu diberikan aba-aba hormat oleh pembina, namun kalau sudah biasa, tanpa aba-abapun akan serentak menghormat.
Pin-up meletakan tongkat berbendera Merah putih pada bagian tengah standar dengan tegak dan tegap, selanjutnya ketika sudah terpasang dengan baik pin-up turut hormat dan kemudian ketika pin-up meletakkan tangannya kembali (posisi tegak)maka secara serentak semua peserta posisi tegak kembali.

h. Pembina Upacara (Pembina Siaga) membaca Pancasila ditirukan oleh semua anggota.
Pembina upacara mengambil teks Pancasila dan kemudian membacanya ditirukan oleh peserta upacara. Cara bacanya sesuai dengan ketentuan umum pembacaan teks Pancasila dalam upacara. Setelah selesai pembina meletakkan kembali teks Pancasila pada tempat semula.
Ada pembina yang mengucapkan Pancasila tanpa teks. Penulis tidak menganjurkan.

i. Pemimpin Upacara membaca Dwidarma diikuti oleh semua anggota perindukan.
Pada acara ini, umumnya pin-up langsung membaca Dwidarma dengan hafalan tanpa teks dan ditirukan oleh para Siaga. Namun dibeberapa daerah ada juga yang membaca dari teks yang diserahkan oleh pembina kepada Pin-up.
Setelah pembina membaca Pancasila, ia meletakkan teks Pancasila, kemudian mengambil teks Dwidarma, dan menyerahkannya pada Pin-up.
Ketika Dwidarma dibacakan, oleh Pin-up, peserta mengucap ulang, tetapi dengan mengganti kata “SIAGA ITU” dengan “KAMI”. Misalnya ketika pin-up ,membaca: “ SIAGA ITU PATUH PADA AYAH DAN IBUNDANYA” maka peserta mengucapkan : “KAMI PATUH PADA AYAH DAN IBUNDA KAMI”. Dan ketika dibacakan : “SIAGA ITU BERANI DAN TIDAK PUTUS ASA”, maka para siaga berkata “ KAMI BERANI DAN TIDAK PUTUS ASA”.

 j. Pemimpin Upacara kembali ke barungnya.
Selanjutnya Pin-up diperintahkan kembali ke barungnya. Pembina dapat mengatakan : “pin-up/Sulung silakan kembali ke barungmu!”. Pin-up/sulung cukup menjawab ; “siap”. Dan kemudian Pin-up balik kanan, kemudian maju dengan langkah biasa menuju barungnya. Oleh karena itu dibiasakan agar barung pin-up berada tepat dibelakang pin-up.

k. Pembina Upacara (Pembina Siaga) mengumumkan hal-hal yang perlu diketahui oleh anggota perindukan.
Pada kesempatan ini pembina upacara menyampaikan pengumuman, biasa dimulai dengan mukaddimah berupa salam, tepuk pramuka-siaga, ucapan syukur. Selanjutnya isi pengumuman, misalnya mengenai rencana latihan hari itu agar menarik hati para siaga, memberikan motivasi dan sebagainya diakhiri dengan ucapan penyemangat, terima kasih pada semua dan salam.

 l. Pembina Upacara (Pembina Siaga) mengucapkan doa yang diikuti oleh anggota perindukan.
Pembina kemudian mengajak berdo’a semua peserta. Bagi perindukan yang peserta upacaranya (pembina dan peserta didiknya)sama agamanya, dianjurkan dengan berdoa yang bisa ditirukan oleh peserta didik.
Penulis tidak menganjurkan peserta hanya menyebut “aamiin” ketika pembinanya berdo’a, karena biasanya akan membuat berdoa kurang khidmat dengan sahutan “aamiin” yang kurang tertib.
Namun jikalau dalam perindukan ada yang berbeda agama, penulis anjurkan berdoa dalam hati masing-masing, pembina upacara dapat menyebut : “BERDOA DALAM HATI MASING-MASING, MULAI!”. Dan jika sudah cukup, mengakhiri dengan kata : “SELESAI!”.

Setelah selesai berdo’a Pembina Upacara kemudian menyebut “UPACARA SELESAI!”

Sebelum pembina upacara menyebut: “UPACARA SELESAI”,  sebaiknya ditempat lain Pembantu pembina sudah siap untuk memulai permainan. Maka ketika sudah dinyatakan upacara selesai, para siaga kemudian “dikejutkan” dengan panggilan aba-aba kumpul memulai kegiatan permainan.
Cukup dengan teriakkan... “SIAGAAAAA!”, maka para siaga menjawab “SIAPPP!” dan mereka berlari segera menghadap ke pemanggil. Maka kegiatan dilanjutkan dengan permainan-acara berikutnya.



Dalam suatu upacara besar, jika Upacara Pembukaan latihan ini dijadikan “style”nya, maka  yang berwenang adalah pengatur upacara seizin-sepengetahuan Pembina Upacara, karena itu jika ada perbedaan disilakan sesuai kepentingan dan kebutuhan  Perbedaan teknis mungkin kita akan temui, yang penting pokok-pokoknya tidak ditiadakan.

Saturday, August 30, 2014

KARANG PAMITRAN KWARRAN MANDE 2014

Salam Pramuka!
Selamat berjumpa lagi Pembaca!
Sudah agak lama, seiring kesembuhan dari penyakit bronchitis yang menimpa, penulis baru kembali mengisi blog tercinta ini. Moga kesehatan selalu terjaga.



Karena mengambil peran pada kegiatan Karang Pamitran Kwarran Mande, berikut ini catatan dari kegiatan tersebut:

Karang pamitran Kwarran Mande yang berlangsung di Gedung SDN Kademangan Cibalagung, telah berlangsung pada hari Sabtu, 30 Agustus 2014. Dibuka oleh Kapusbindik SD Kecamatan Mande sebagai Ketua Harian Mabiran.

Ka Pusdiklatcab Cianjur Kak Agus Solihin 
Dalam karang pamitran ini, materi disajikan oleh Tim Pusdiklatcab Cianjur, langsung dipimpin Ketua Pusdiklatcab Cianjur Kak Agus Solihin, S.Pd.,MM –LG. Didamping oleh anggota tim Kak Haris Setiawan- LG, Kak H. Idham Kholid, SE-LG, dan penulis ( Irwan Maulana-LS).

Materi yang disajikan adalah Implementasi Kurikulum 2013-ekstrakurikuler wajib kepramukaan oleh Kak Agus Solihin. Materi Administrasi-Penyusunan Program dan Praktek Lapangan Latihan Penggalang oleh Kak Haris dan Kak Kholid.  Sedang saya menyajikan Akreditasi Gugus Depan.





Berikut ini adalah sumber yang bisa diunduh oleh kakak-kakak  peserta, yang penulis telah sajikan.
      1.   Slide presentasi unduh disini
      2.   Buku Panduan unduh disini
3.  Soft copy untuk registrasi online ke Kwarnas unduh disini

Tidak kalah penting, inilah  pendapat peserta  mengenai   akreditasi dan akreditasi gudep:
Sesi migrasi yang bikin adrenalin naik.... tapi ceria..

Kak Mahdawani  Pembina Gudep Cianjur 08-028 pangkalan  SDN Murnisari  menyatakan akreditasi gudep itu penting untuk  “ mengetahui apa saja yang masih belum ada pada pangkalan yang belum dilengkapi, dan untuk meningkatkan mutu” gugus depan.

Kak Siti Hamidah, Pembina Gudep Cianjur 08-006 pangkalan SDN Ciangsana, menilai pentingnya akreditasi gudep “ supaya kita mengetahui kekurangan-kekurangannya dan bisa memperbaiki untuk kedepannya.”

Kak Titik Farida, S.Pd dari Pangkalan SDN Kademangan, walau menyebut akreditasi  “ribet/repot”, tapi  akreditasi gudep tetap penting untuk “mengetahui kemajuan dan kekurangan suatu gudep dan terstrukturnya administrasi gugus depan.”

Kak Ratnisah, menyebut penting akreditasi, “untuk meningkatkan kualitas kinerja gudep dan menjadi acuan  dalam pengadministrasian.”

Kak Dedah Rohayati, NTA 0903.08.00192, sependapat dengan yang menganggap penting akreditasi yaitu “ untuk mengetahui keadaan/ kondisi (gudep di) sekolah; untuk mengukur keadministrasian yang terstruktur (gudep di) sekolah; untuk meningkatkan /menilai evaluasi diri; dan untuk bahan acuan/perbandingan yang semaksimal yang sesuai dengan aturan yang telah ditetapkan.”

Kak Tri Hayati pangkalan SDN Mande 2, menilai akreditasi gudep penting “ sebagai upaya menstandarisasi dan penjaminan mutu gudep sehingga kualitas tiap gudep dapat ditingkatkan.”

Kak Yenni Kartini pangkalan SDN Cintanagara, menyatakan “akreditasi gugus depan merupakan motivasi gugus depan untuk mengetahui kekurangan dan kelebihan dari kegiatan kepramukaan baik pencapaian tujuan bagi pembina, majelis pembimbing ,komite dan orangtua.”

Kak Enung Wida  pangkalan SDN Mande 3, menyatakan  pentingnya  akreditasi bagi gugus depan “karena menambah pengetahuan mengenai kepramukaan, karena adanya perbaikan kegiatan kepramukaan di gudep masing-masing, pengadministrasian mengenai kepramukaan dilengkapi,  dan kegiatan kepramukaan atau eskul digalakan atau ditingkatkan.”

Kak Deudeu Umi Kulsum, S.Pd.  Pembina  Gudep Cianjur 08-056 memastikan akreditasi gudep akan menjadikan “pembina ditambah kesibukan karena harus  melengkapi administrasi gugus depan.” Walaupun demikian ia menyebut “akreditasi gudep penting supaya gugus depan kita lebih maju dan menambah wawasan bagi para pembina satuan di gudep tersebut.”

Kak An-an Nurhasanah pangkalan SDN Jamali V, merasakan akreditasi “ repot, cape, banyak dana tidak terduga, juga membutuhkan waktu banyak atau  menyita waktu.”,meski demikian ia  menganggap  akreditasi gudep penting untuk, “memperbaiki gugus depan, menjadikan lebih maju atau akan ada peningkatan gugus depan, menambah wawasan pengetahuan bagi para pembina.”

Kak Hera Herviani pangkalan SDN Jatiwangi , mengakui  akreditasi sering  menimbulkan “pembiayaan (yang) membengkak”, namun akreditasi gudep tetap dinilai  “sangat bermanfaat terhadap kegiatan  pramuka yang diselenggarakan  oleh gugus depan.  Karena dengan administrasi  gudep dapat mengevaluasi  dan memperbaiki  hal-hal yang berkenan dengan 9 komponen dalam standar kepramukaan.”

Kak Ratih, Pembina Gudep Cianjur  08-030 pangkalan SDN Situsari (ratih7164@gmail.com) menilai pentingnya akreditasi gudep “agar semuanya dapat terorganisir dengan baik dan kita dapat mengetahui  apa saja kekurangan yang belum lengkap. Akreditasi juga sebagai acuan dalam upaya peningkatan  mutu dan rencana pengembangan  gugus depan. Menjamin gugus depan yang terakreditasi dan memenuhi standar.”

Sesi Praktek Lapangan..... lumayan segar di alam bebas...!
Kak Andri Setiawan , S.Pd.I dan Kak Asep Muhammad Rais, S.Pd.I, pembina gudep Cianjur 08-015 pangkalan MA Musa’adatul Ikhwan  menyatakan manfaat  akreditasi gudep, yaitu “untuk memperbaiki di seluruh divisi gugus depan; bahan evaluasi pembina, peserta didik dan mabigus; untuk  menarik para peserta didik ke sekolah karena mempunyai/ terakreditasi nilai/skor besar; menjadi gugus depan yang  terstandarisasi; tali silaturahmi antar anggota pramuka.”

Kak Agus Komarudin, S.Pd.I. pembina gudep  Cianjur 08-066 menurutnya akreditasi umumnya “ribet, banyak yang tidak ada harus ada, biaya tak terduga ketika perlu biaya anggaran tidak ada, kejar tayang hingga kurang istirahat atau mengesampingkan tugas lain untuk akreditasi.” Meski demikian,  terkait akreditasi gudep , ia berkeyakinan memiliki manfaat, yaitu “memacu mabigus menganggarkan biayanya, melindungi peserta gerakan pramuka dari  musibah, menjadi acuan  untuk menjadikan  gerakan pramuka (lebih) bermoral; kegiatan pramuka menjadi terarah karena berusaha memenuhi standar ( 9 indikator).

Kak Ayi Suprihati, pangkalan SDN Sirnagalih, menurutnya “akreditasi dapat dijadikan sebagai evaluasi agar kita dapat memperbaiki dimana letak kelemahan kita dan dapat mempertahankan hal-hal yang sudah baik, dan lebih baik, lebih ditingkatkan lagi.”

Kak Asep Rohmat , pangkalan SDN Mande VI, mengalami  akreditasi sering  membuatnya “waktu tersita dan banyak pikiran”. Namun terkait dengan akreditasi gugus depan penting dalam membuat “bekerja sama, sama-sama bekerja, dan semua dokumen lengkap”.

Kak Moch. Ganjar AS, S.Pd. , pembina gudep Cianjur 08-073 pangkalan SDN Cikidangbayabang IV, menyebutkan pengalaman akreditasi adalah hal yang membuatnya, “cape, ribet, ngantuk, sakit”.  Namun ia yakin dengan akreditasi gudep, “semua kelengkapan yang tidak ada terpenuhi dan tertata”.

Kak Mustopa Kamaludin pangkalan SDN Tegalpanjang, mengalami kenyataan akreditasi sering menuntut “jam tambahan (bekerja para guru), persiapan yang diada-ada(kan),  kejar target, dan biaya tak terduga.”  Namun akreditasi gudep penting baginya untuk “pencapaian standar gerakan pramuka, meningkatkan pelayanan bagi masyarakat, acuan berbagai pihak yang berkepentingan, dan evaluasi untuk peningkatan pelayanan.”

Kak Ujang Dedi Mulyadi pembina gudep Cianjur 08-053 pangkalan SDN Cipeundeuy, menyebut akreditasi penting dalam rangka: “penilaian kinerja pembina pramuka; kemajuan pramuka Indonesia khususnya di pangkalan, kwarran, kwarcab tercinta ini; penyemangan bagi pembina, siswa (yg aktif pramuka) dalam kegiatan pramuka; tolok ukur pengatur/pelaku kegiatan pramuka di pangkalan”.

Kak Abdurohman Santoso, pembina gudep Cianjur 08-047 pangkalan SDN Ciandam menyatakan “akreditasi penting sebagai bahan acu dalam peroses pebelajaran. Akreditasi yaitu merupakan evaluasi, penambahan bahan materi ajar (ilmu pengetahuan) dan penilaian.”  Meskipun demikian “kesiapan yang kurang, dan beberapa administrasi yang jarang dibuat  saat proses pembelajaran maka pada proses akreditasi hal tersebut menjadi hambatan.”

Kak Delly Isnaeni, pembina gudep Cianjur 08-013, akreditasi gudep penting  “ karena melaksanakan kegiatan kepramukaan bukti dan sumber yang dipakai suka dibiarkan begitu saja. Setiap pembina akan lebih rajin dalam melaksanakan  pengadministrasian kepramukaan dengan  dibuktikan (dengan) sarana prasarana kepramukaan.”

Kak Randi Hendrawan, S.Pd. pembina gudep Cianjur 08-105 pangkalan SDN Musa’adatul Ikhwan menilai akreditasi bermanfaat “menjadi sumber evaluasi, untuk menjadi lebih baik lagi kedepannya.”

Kak Zenal Mutaqin, S.Pd.I , pangkalan SDN Selagedang berpendapat bahwa akreditasi penting karena “menjadi tolak ukur perkembangan Gerakan Pramuka di pangkalan. Dengan adanya akreditasi, menjadi motivasi bagi kami untuk melaksanaka n kegiatan pramuka, lebih baik, yang sesuai dengan standar kepramukaan.”


Demikian catatan kita hari ini, Insya Alloh tulisan mendatang akan segera hadir... Sampai jumpa !

Tuesday, May 6, 2014

PERKEMAHAN PRAMUKA PONDOK PESANTREN SE JAWA BARAT KE 2 TAHUN 2014



A.   Latar Belakang
Sejalan dengan usaha peningkatan mutu dan pembinaan Pramuka di Indonesia sejumlah kegiatan telah dilaksanakan, baik yang dilaksanakan di tingkat daerah, maupun di tingkat nasional. Namun, marilah kita berpikir sejenak bahwa dalam paradigma thinking globally but acting locally, apapun dan di manapun yang kita lakukan harus tetap bersinergi dengan tema besar Gerakan Pramuka yaitu memiliki satu cita-cita menjadikan seluruh generasi muda agar memiliki kecintaan yang besar terhadap bangsanya.
Sehubungan dengan hal tersebut, maka Gerakan Pramuka Kwartir Daerah Jawa Barat bekerjasama dengan sejumlah Pondok Pesantren yang ada di wilayah Jawa Barat memandang perlu untuk melaksanakan suatu kegiatan yang merupakan bagian dari langkah strategis proses pembinaan generasi muda yang berwawasan global serta merupakan suatu langkah nyata menuju Jawa Barat sebagai Provinsi Pramuka, sehingga dengan demikian diharapkan tercapainya Revitalisasi Gerakan Pramuka sebagaimana yang dicanangkan oleh Bapak Presiden Republik Indonesia.
Perkemahan Pramuka Pondok Pesantren ke-2 se-Jawa Barat dilaksanakan dengan tujuan menjalin persaudaraan (Ukhuwwah Islamiyyah) antar Pramuka yang berpangkalan di Pondok Pesantren yang diharapkan pula dapat membentuk suatu kekuatan dalam upaya meningkatkan kualitas pembinaan generasi muda untuk mencapai bangsa yang bermartabat dan menjunjung tinggi moral.



B.   Dasar Pemikiran
1.   Gerakan Pramuka sebagai gerakan kepanduan praja muda karana mempuyai tugas pokok untuk menyelenggarakan pendidikan kepramukaan bagi kaum muda Indonesia dalam menumbuhkan kesadaran untuk bersama-sama membangun negeri.
2.   Bahwa sesuai dengan salah satu misi Gerakan Pramuka yaitu mengembangkan program-program yang dapat menyelesaikan masalah-masalah kemasyarakatan dan generasi muda, sehingga anggota Gerakan Pramuka dapat menjadi kader bangsa yang memiliki kepedulian dan mandiri.
3.   Sebagai salah satu wujud nyata dalam menerapkan tri satya dan dasa darma Pramuka berkewajiban untuk ikut serta mempersiapkan diri membangun masyarakat.

C.   Dasar Penyelenggaraan
1.  Undang-undang Republik Indonesia Nomor 12 Tahun 2010.
2.  Anggaran Dasar Gerakan Pramuka.
3.  Anggaran Rumah Tangga Gerakan Pramuka.
4.  Program Kerja Gerakan Pramuka Pondok Pesantren se-Jawa Barat.

D.   Maksud dan Tujuan
1.  Menjalankan tri satya dan dasa darma.
2.  Meningkatkan sikap disiplin dan tanggung jawab anggota Gerakan Pramuka.
3.  Mengembangkan jiwa korsa anggota Gerakan Pramuka sebagai upaya menggalang persatuan generasi muda.
4.  Meningkatkan rasa pengabdian dan kepedulian anggota Gerakan Pramuka terhadap masyarakat, bangsa dan Negara.
5.  Sebagai wadah pertemuan Pramuka untuk menggalang persaudaraan, menambah pengalaman, pengetahuan, keterampilan dan meningkatkan rasa pengabdian yang tinggi terhadap masyarakat.


    PELAKSANAAN
1.  Nama kegiatan             :       Perkemahan Pramuka Pondok Pesantren Ke-2 Se
                                           Jawa Barat.
2.  Waktu pelaksanaan    :       18 Mei s/d 22 Mei 2014
3.  Tempat pelaksanaan   :       Bumi Perkemahan Mandala Kitri Cibodas Cianjur.
4.  Tema kegiatan              : Berawal dari Tunas Kelapa Kita Bina Tunas Bangsa
                                           Sebagai Kader Ummat dan Kader Pembangunan.
5.  Motto kegiatan              :       Seiman Berkarya Bina Umat.

Peserta
Peserta adalah anggota Gerakan Pramuka Penggalang dan Penegak, Putra dan Putri yang tergabung dalam Gugusdepan yang berpangkalan di Pondok Pesantren