Motto IRWAN MAULANA

" MUN TEU NGARAH MOAL NGARIH, MUN TEU NGAKAL MOAL NGAKEUL ".

Thursday, April 30, 2015

PENDEKATAN KURIKULUM PENDIDIKAN KEPRAMUKAAN

Salam Pramuka,
Hallo apa kabar..Kakak-kakak dan Adik-adik Pembaca...!
Selamat berjumpa kembali...

Bagi saya sebagai pelatih pembina pramuka, nama Kak Dr.Joko Mursitho, M.Si., sudah sangat familiar. Ia adalah Kepala Pusdiklatnas Gerakan Pramuka. Disamping itu ia adalah seorang Specialist Panel WOSM - Asia Pacific Regional. Karya tulisnya sering saya jadikan referensi baik terkait kepramukaaan ataupun pendidikan secara umum. Berikut ini adalah tulisan beliau mengenai Pendekatan Kurikulum Pendidikan Kepramukaan. Saya share bagi pembaca semoga dapat turut menikmati tulisan yang bermutu ini, Selamat membaca ! Iqro...iqro...iqro....!

PENDEKATAN KURIKULUM PENDIDIKAN KEPRAMUKAAN

Pendidikan kepramukaan merupakan suatu pendidikan yang sangat unik, menarik dan membuahkan suatu pendidikan karakter yang luar biasa hasilnya.  Di tengah terpaan gelombang globalisasi  yang dahsyat dengan kiblat keduniawiaan yang sangat tinggi, maka pendidikan tidak bisa ditanggulangi dengan pendidikan spiritual yang hanya mengutamakan kehidupan akhirat. Oleh karena itu pendidikan kepramukaan yang muaranya adalah pendidikan karakter sebagaimana yang dikemukakan oleh Baden Powell yang memiliki dimensi pengembangan 5 ranah kecerdasan spiritual, emosional, social, intelektual, dan fisik merupakan  senjata yangampuh untuk menuntaskan pendidikan karakter di seluruh dunia.Kelemahan pendidikan kepramukaan bukan karena bobot kurikulumnya yang kurang tetapi karena mencari orang-orang yang “suka rela” menjadi pembina pramuka tidaklah mudah. Terpaan budaya profanistis yang sangat kuat menghantam persendian pendidikan di lingkungan keluarga, sekolah dan masyarakat sehingga semua kegiatan diperhitungkan dengan keuntungan fisik dan non fisik; dengan uang atau jabatan sebagai tolok ukurnya, faktor inilah yang telah memporakperandakan kesukarelaan di dunia, termasuk di Indonesia. Di sini terjadi pertarungan yang sangat sengit antara kepentingan idealisme yang mengkanankan kepentingan pendidikan bangsa dan hedonisme yang mengkanankan kepentingan pribadi. Abrasi nilai pengabdian orang dewasa inilah yang menjadikan semakin sedikitnya “sukarelawan” yang mau bekerja dengan ikhlas bakti bina bangsa ber budi bawa laksana. Menurunnya rasa kesukarelaan dilingkungan masyarakat akan semakin menggerogoti kekuatan pendidikan kepramukaan.
Sejalan dengan pendidikan kepramukaan maka “kurikulum pendidikan nasional 2013” yang memiliki 4 kurikulum inti ternyata sejalan dengan 5 ranah pengembangan pendidikan kepramukaan yang telah menjadi pendahulunya sejak tahun1907. Hal ini memberikan harapan besar bagi para pelatih pembina pramuka, karena implementasi kurikulum pendidikan 2013 ini diharapkan akan menumbuhsuburkan “semangat pengabdian” bagi guru untuk menjadi pembina pramuka yang sukarela dan tangguh.  Model Kurikulum kepramukaan di Indonesia maupun di seluruh dunia memiliki kesamaan, walaupun tidak tertera secara eksplisit, karena “Scouting is not a science to be solumnly studied” namun demikian melalui tulisan-tulisan dan sepak terjang Baden Powell yang dilestarikan dalam pendidikan kepramukaan di seluruh dunia, dapat penulis simpulkan bahwa ada 3 model kurikulum dalam pendidikan kepramukaan yakni:1.     Inquiry model. Pendidikan ini mendasarkan pada pengalaman. Baden Powell meminta kesepakatan kepada para pelatih-pelatih pembina pramuka dengan kata-katanya “Dawn with everything and up with me” (Lupakan sesuatu yang telah berlalu, dan bangkitlah bersamaku).  Ini dimaksudkan bahwa dalam pendidikan tidak perlu mengungkapkan kesalahan peserta didiknya di masa lalu, tetapi menatap masa depan dengan memulai berbuat dengan sebaik-baiknya dari sekarang. Di dalam inquiry model ini terdapat 3 pendekatan di dalam kepramukaan sebagai berikut:
a.      Inquiry based learning: A practical Application. Pendidikan berdasarkan pengalaman dengan aplikasi penerapan, telah sangat nyata adanya dalam metode kepramukaan  yakni “learningby doing”.  Di dalam pendidikan tersebut kita menerapkan “learning to know” (belajar untuk mengetahui dengan cara mencari tahu bukan diberi tahu), “learning to do” (belajar untuk terampil dengan menguasai berbagai kecakapan yang dibutuhkan baik kecakapan umum maupun kecakapan khusus); learning to live together (belajar untuk hidup bersama) yang di dalamnya terdapat “learning to earn” (belajar untuk mencari nafkah), dan“learning to serve” (belajar untuk memberikan pelayanan), dan yang terakhir adalah "learning to be" (belajar untuk menemukan dirinya).
b.      Project based-learning. Metode proyek ini diterapkan didalam pendidikan kepramukaan sebagai implikasi penerapan nilai sosial. Bagi peserta didik dalam Gerakan Pramuka ada kegiatan yang merupakan bagian dari “game” yakni membuat hasta karya yang bisa dilakukan secara individu maupun kelompok. Kegiatan bakti siaga, penggalang, penegak, dan pandega merupakan penerapan dari belajar proyek ini. Kegiatan  yang sangat nyata adalah adanya  program “Perkemahan Wirakarya” bagi pramuka penegak, dan pandega yang diselenggarakan paling tidak satu masa bakti kwartir. Kegiatan ini merupakan "total pengabdian" bagi seorang penegak dan pandega. Peserta kegiatan adalah seorang "Penegak bantara", atau "Pandega", jika mereka belum selesai pengisian SKUnya maka "award" bagi mereka dibantarakan atau dipandegakan disini.
c.       Problem based learning &Case based learning. Kegiatan kepramukaaan selalu dekat dengan lingkungan sosial maupun lingkungan alam; dengan demikian “Scouting Skills” pada hakekatnya disiapkan sebagai pembelajaran yang bertumpu pada pemecahan masalah dan bagaimana mengurai kasus-kasus untuk memperoleh alternatif solusi terbaik.
2.     Social Models. Pendidikan kepramukaan sangat jelas dalam “Janji Pramuka (Scout Promise)” yakni Menolong sesama hidup dan ikut serta membangun masyarakat. Hal ini dilakukan dengan:
a.      Enhancing thinking through cooperative learning. Model pembelajaran kepramukaan dengan meningkatkan kualitas melalui belajar bekerjasama dengan orang lain, telah diterapkan dalam prinsip dasar pendidikan dan metode kepramukaan yang antara lain adalah  “patrol system” atau sistem beregu di mana peserta didik belajar bekerja sama, belajar hidup bersama, belajar memimpin dan dipimpin, yang nantinya ketika mereka benar-benar terjun di masyarakat akan menjadi anggota masyarakat yang utama. Oleh karena itu semua permainan di dalam pendidikankepramukaan harus memenuhi 4 kriteria yakni:“Health, happiness, helpfulness, dan handicraft”.
b.      Using the role-play method  to promote thinking. Pendidikan kepramukaan menggunakan metode peran untuk meningkatkan penalaran yang di dalam kegiatannya dilakukan melalui “kiasan dasar (symbolic frame)” dan “sistem tanda kecakapan” sebagai sarana penggugah semangat, dan memanusiakan manusia.
c.       Promoting social-emotional learning. Pendidikan ini nampak sekali dalam kegiatan perkemahan, di mana ada pembagian tugas yang baik sehingga semuanya mengalami sebagai juru masak, membersihkan tenda, kegiatan survival, first aids, memimpin dan dipimpin, merencanakan kegiatan, dan kegiatan bakti. Bagaimana peserta didik dilatih mengendalikan nafsunya, melatih kesabaran, melatih menghargai kekurangan orang lain, dan inilah sejatinya promoting social-emotional learning  tersebut.
3.     Personal models. Pendidikan kepramukaan mendidik anggota melalui pengembangan sikapnya secara individu. Baden Powell dalam bukunya “Rovering to success” menyampaikan dalam satu sub judulnya bahwa “Self education is necessary” yang menyatakan pentingnya pendidikan individu, Tuhan menciptakan manusia untuk menjadi manusia (God made men to be men).  Dalam buku “World Adult Resources Handbook” disampaikan bahwa pendidikan kepramukaan menggunakan “Self-directed learning", untuk menghadapi kondisi dan situasi lingkungan yang terus berubah.  Disinilah pendidikan dalam kepramukaan sebagai wahana yang unggul menuju kemandirian, dan warga negara yang baik.  Dengan demikian ada kegiatan dimana pendidikan kepramukaan menggunakan:
a.      Enhancing the problem findingskills. Dalam kegiatan kepramukaan diberikan pioneering bukan hanya sekedar mengikat tongkat menjadi bentuk-bentuk bangunan yang direncanakan tetapi peserta didik dilatih untuk membuat perencanaan, menemukan barang yang diperlukan, membuat rencana baru atau rencana pengganti apabila benda-benda yang diperlukan tidak diperoleh, menemukan inovasi, menilai atau menaksir apakah benda-benda yang diperoleh tersebut representatif untuk rencana yang akan dibuat. Di sinilah anak-anak pramuka dilatih untuk meningkatkan kualitas keterampilan dengan dihadapkan pada masalah-masalah.
b.      Handy thinking tools to promote creative problem solving. Pendidikan kepramukaan dilakukan di alam terbuka yang menantang, di sini kreativitas anak dikembangkan melewati latihan-latihan kecerdasan baik kecerdasan fisik/kinestetik, kecerdasan intelektual, kecerdasan sosial, kecerdasan emosional, bahkan kecerdasan spiritual (Learning to multiple intelligences). Di sinilah anak dibiasakanuntuk tahan uji, tidak mudah putus asa, dan senantiasa berbuat kebaikan.
c.       Promoting open mindedness in analysing and evaluating arguments. Kegiatan kepramukaan akan membuat anak-anak menerima sesuatu yang baru, sesatu yang berbeda, kemudian menilai apakah sesuatu tersebut cocok dengan nilai-nilai satya dan darmanya, untuk diterapkan di dalam kehidupan.
Dengan demikian pendidikan kepramukaan tidak akan kuno dan ketinggalan jaman. Kesalahan besar adalah manakala pelatih dan pembina pramukanya tidak mau belajar sehingga dari tahun ke tahun yang diberikan kepada peserta didik tidak pernah berubah. Nilai tetap tetapi kemasan yang merupakan alat harus berubah sesuai dengan kebutuhan dan minat anak.


REFERENSI:
1.      Ai-Choo Ong & Gary D. Borich, Theaching Strategies That Promote Thinking.Models and Curriculum Approach, Mc Graw Hill. Singapore. Boston. Burr ridgeII. Dubuque, 1A. Madison, WI. New York. San Francisco. St. Louis. Kuala Lumpur.Lisbon. London. Madrid. Mexico City. Milan. Montreal. New Delhi. Seoul. Sydney.Taipei. Toronto.
2.     BadenPowell. Lord,. 1922., Rovering to Success, Herbert Jenkins Ltd. 3 Duke of York Street, London, S.W.I.
3.     BadenPowell. Lord., Panduan Untuk Pembina Pramuka Penggalang, (Judul asli: Aids to Scout Masterships) disunting oleh: Mun Kusumanti, Joko Mursitho,Dadi Pakar & Rini Palupi, Penerbit: Pustaka Tunas Media, Balai Penerbit Gerakan Pramuka, Jakarta

Sunday, January 18, 2015

SETANGAN LEHER, Apaan tuh...!



Salam Pramuka!
Kakak dan Adik pembaca, hari ini saya ketengahkan kehadapan pembaca bahasan mengenai setangan leher. Saya sajikan ini, sehubungan dengan adanya posting di Grup FB yang saya ikuti mempersoalkan penggunaan setangan leher dikaitkan dengan sudah-tidaknya seorang dilantik menjadi anggota Gerakan Pramuka.

Daripada panjang lebar komentar di grup tersebut, lebih baik saya menulis artikel sederhana ini semoga bermanfaat.

SETANGAN LEHER PRAMUKA

Setangan leher, biasa disebut juga kacu atau hasduk adalah salah satu kelengkapan dalam seragam pramuka. Berbentuk kain segitiga. Panjangnya sekitar se(rentang)tangan, dipakai dileher, mungkin karena itulah disebut setangan leher.
Bukan saja pramuka di Indonesia, di negara-negara lain yang memiliki organisasi kepanduan, para pramukanya (pengakap, scout, guide dsb) juga mengenakan tanda ini. Inilah tanda pengenal yang universal di kepanduan sebagaimana diajarkan oleh Baden Powell.
Kegunaan setangan leher menurut Baden Powell cukup banyak. Namun tulisan ini sementara berfokus kepada setangan leher yang ada Gerakan Pramuka. In syaa Alloh kita bahas kegunaan hasduk ditulisan lain mendatang.

Landasan Hukum
Gerakan Pramuka memiliki aturan mengenai penggunaan setangan leher ini. Beberapa Petunjuk Penyelenggaraan mengaturnya. Sebut saja :
1.   Keputusan Kwartir Nasional Gerakan Pramuka Nomor : 055 Tahun 1982 Tentang Petunjuk Penyelenggaraan Tanda Pengenal Gerakan Pramuka;
2.   Keputusan Kwartir Nasional Gerakan Pramuka Nomor : 059 Tahun 1982 Tentang Petunjuk Penyelenggaraan Tanda Umum Gerakan Pramuka 
3.    Keputusan Kwartir  Nasional  Gerakan  Pramuka Nomor: 174 Tahun 2012 Tentang Petunjuk  Penyelenggaraan  Pakaian   Seragam  Anggota  Gerakan Pramuka

Setangan leher diklasifikasikan sebagai Tanda Umum.  Seperti yang dicantumkan dalam Pt.4. Pengertian (Jukran Tanda Pengenal GP),  Tanda Umum, yaitu tanda yang dipakai secara umum oleh semua anggota Gerakan Pramuka yang telah dilantik, putera maupun puteri, misalnya tanda tutup kepala, setangan leher, dan sebagainya.

Apa syarat seseorang dapat mengenakan Tanda Umum?
Pada Pt.14. (Jukran Tanda Pengenal GP) mengenai syarat, dinyatakan:
1.     Seorang Pramuka (Siaga, Penggalang, Penegak dan Pandega) hanya dibenarkan mengenakan Tanda Umum pada pakaian seragamnya, sesudah yang bersangkutan memenuhi SKU sesuai dengan tingkat kecakapan dan golongan usianya, dan dilantik sebagai anggota Gerakan Pramuka.
2.       Orang dewasa dalam Gerakan Pramuka hanya dibenarkan mengenakan Tanda Umum pada pakaian seragamnya sesudah yang bersangkutan menyatakan setuju dengan ini Anggaran Dasar dan Anggaran Rumah Tangga Gerakan Pramuka, serta dikukuhkan menjadi anggota Gerakan Pramuka.

Pt.6. (Jukran Tanda Umum GP) mengenai Fungsi, Tanda umum salah satunya berfungsi  sebagai tanda pengesahan atas keanggotaan seseorang sebagai seorang anggota Gerakan Pramuka dan Gerakan Kepramukaan Sedunia.

Bagaimana tata cara pemakaiannya?
Pada Bab VI mengenai Tata Cara Pemakaian Seragam Pramuka.
1.      Seorang calon anggota Gerakan Pramuka yang belum dilantik/dikukuhkan hanya  dibenarkan memakai pakaian seragam pramuka, tanpa tutup kepala ,  tanpa setangan leher  dan tanpa  menggunakan  tanda pengenal Gerakan Pramuka lainnya.
2.   Seorang anggota Gerakan Pramuka yang telah memenuhi syarat dan dilantik /dikukuhkan  atau  mendapat perestuan,  berhak memakai  pakaian seragam pramuka lengkap dengan setangan  leher  dan tutup kepala serta tanda pengenal Gerakan Pramuka sesuai dengan ketentuan  yang  berhubungan  dengan  usia golongan, tingkat, dan jabatannya.


Bentuk dan Ukuran
Dalam Jukran Pakaian Seragam No. 174 Tahun 2012, Setangan leher memiliki bentuk dan ukuran sebagai berikut:
a)      dibuat dari bahan warna merah dan putih.
b)      berbentuk segitiga sama kaki;
c)  sisi panjang sesuai dengan golongan keanggotaan ( Siaga=90 cm; Penggalang=100-120 cm; Penegak/Pandega/ Pembina 120-130 cm) , sedangkan sudut bawah  90ยบ (panjang disesuaikan dengan tinggi badan pemakai sampai di pinggang).
d)      bahan dasar warna putih dengan lis merah selebar 5 cm.
e)      setangan leher dilipat sedemikian rupa (lebar lipatan ± 5 cm)  sehingga  warna merah putih  tampak dengan jelas,  dan  pemakaiannya tampak rapi.
f)       dikenakan dengan cincin (ring) setangan leher.
g)      dikenakan di bawah kerah baju

Tata Cara Melipat
Cara melipat diatur dalam Jukran Pakaian Seragam 2012